Hadits Mengerakan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud

Pertanyaan Pertama:

Terlihat dalam praktek sholat, ada sebagaian orang yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahud dan ada yang tidak menggerak-gerakkan. Mana yang paling rojih (kuat) dalam masalah ini dengan uraian dalilnya?

Jawab :

Fenomena semacam ini yang berkembang luas di tengah masyarakat merupakan satu hal yang perlu dibahas secara ilmiah. Mayoritas masyarakat yang jauh dari tuntunan agamanya, ketika mereka berada dalam perbedaan-perbedaan pendapat dalam masalah agama sering disertai dengan debat mulut dan mengolok-olok yang lainnya sehingga kadang berakhir dengan permusuhan atau perpecahan. Hal ini merupakan perkara yang sangat tragis bila semua itu hanya disebabkan oleh perselisihan pendapat dalam masalah furu’ belaka, padahal kalau mereka memperhatikan karya-karya para ulama seperti kitab Al-Majmu‘ Syarah Al-Muhadzdzab karya Imam An-Nawawy, kitab Al-Mughny karya Imam Ibnu Quda mah, kitab Al-Ausath karya Ibnul Mundzir, Ikhtilaful Ulama karya Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dan lain-lainnya, niscaya mereka akan menemukan bahwa para ulama juga memiliki perbedaan pendapat dalam masalah ibadah, muamalah dan lain-lainnya, akan tetapi hal tersebut tidaklah menimbulkan perpecahan maupun permusuhan diantara mereka. Maka kewajiban setiap muslim dan muslimah adalah mengambil segala perkara dengan dalilnya. Wallahul Musta’an.

Adapun masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak mengerak-gerakkannya, rincian masalahnya adalah sebagai berikut :

Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis :

1.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali.

2.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan.

3.Ada yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan (menunjuk) dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak.

Perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk kebanyakannnya adalah dari jenis yang ketiga dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama dan tidak ada keraguan lagi tentang shohihnya hadits-hadits jenis yang ketiga tersebut, karena hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Imam Muslim dan lain-lainnya, dari beberapa orang sahabat seperti ‘Abdullah bin Zubair, ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Muhammad As-Sa‘idy, Wa`il bin Hujr, Sa’ad bin Abi Waqqash dan lain-lainnya. Maka yang perlu dibahas di sini hanyalah derajat hadits-hadits jenis pertama (tidak digerakkan sama sekali) dan derajat hadits yang kedua (digerak-gerakkan).

Hadits-Hadits yang Menyatakan Jari Telunjuk Tidak Digerakkan Sama Sekali. Sepanjang pemeriksaan kami ada dua hadits yang menjelaskan hal tersebut.

Hadits Pertama

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُشِيْرُ بِأُصْبِعِهِ إِذَا دَعَا وَلاَ يُحَرِّكُهَا

Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam beliau berisyarat dengan telunjuknya bila beliau berdoa dan beliau tidak mengerak-gerakkannya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya no.989, An-Nasai dalam Al-Mujtaba 3/37 no.127, Ath-Thobarany dalam kitab Ad-Du’a no.638, Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/177-178 no.676. Semuanya meriwayatkan dari jalan Hajjaj bin Muhammad dari Ibnu Juraij dari Muhammad bin ‘Ajlan dari ‘Amir bin ‘Abdillah bin Zubair dari ayahnya ‘Abdullah bin Zubair… kemudian beliau menyebutkan hadits di atas.

Derajat Rawi-Rawi Hadits Ini sebagai Berikut::

Hajjaj bin Muhammad. Beliau rawi tsiqoh (terpercaya) yang tsabt (kuat) akan tetapi mukhtalit (bercampur) hafalannya diakhir umurnya, akan tetapi hal tersebut tidak membahayakan riwayatnya karena tidak ada yang mengambil hadits dari beliau setelah hafalan beliau bercampur. Baca : Al-Kawa kib An-Nayyirot, Tarikh Baghdad dan lain-lainnya.•

Ibnu Juraij. Nama beliau ‘Abdul Malik bin ‘Abdil ‘Aziz bin Juraij Al-Makky seorang rawi tsiqoh tapi mudallis akan tetapi riwayatnya disini tidak berbahaya karena beliau sudah memakai kata A khbarani (memberitakan kepadaku). •

Muhammad bin ‘Ajlan. Seorang rawi shoduq (jujur).•

‘Amir bin ‘Abdillah bin Zubair. Kata Al-Hafidz dalam Taqrib beliau adalah tsiqoh ‘abid (terpercaya, ahli ibadah).• ‘

Abdullah bin Zubair. Sahabat.

Derajat Hadits

Rawi-rawi hadits ini adalah rawi yang dapat dipakai berhujjah akan tetapi hal tersebut belumlah cukup menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang shohih atau hasan sebelum dipastikan bahwa hadits ini bebas dari ‘Illat (cacat) dan tidak syadz. Dan setelah pemeriksaan ternyata lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) ini adalah lafadz yang syadz.

Sebelum kami jelaskan dari mana sisi syadznya lafadz ini, mungkin perlu kami jelaskan apa makna syadz menurut istilah para Ahlul Hadits. Syadz menurut pendapat yang paling kuat dikalangan Ahli Hadits ada dua bentuk :

• Pertama: Syadz karena seorang rawi yang tidak mampu bersendirian dalam periwayatan karena beberapa faktor.

• Syadz karena menyelisihi. Dan yang kami maksudkan disini adalah yang kedua. Dan pengertian syadz dalam bentuk kedua adalah

رِوَايَةُ الْمَقْبُوْلِ مُخَالِفًا لِمَنْ هُوَ أَوْلَى مِنْهُ

Riwayat seorang maqbul (yang diterima haditsnya) menyelisihi rawi yang lebih utama darinya”.

Maksud “rawi maqbul” adalah rawi derajat shohih atau hasan. Dan maksud “rawi yang lebih utama” adalah utama dari sisi kekuatan hafalan, riwayat atau dari sisi jumlah. Dan perlu diketahui bahwa syadz merupakan salah satu jenis hadits dho’if (lemah) dikalangan para ulama Ahli Hadits.

Maka kami melihat bahwa lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) adalah lafadz yang syadz tidak boleh diterima sebab ia merupakan kekeliruan dan kesalahan dari Muhammad bin ‘Ajlan dan kami menetapkan bahwa ini merupakan kesalahan dari Muhammad bin ‘Ajl an karena beberapa perkara :

1.Muhammad bin ‘Ajl an walaupun ia seorang rawi hasanul hadits (hasan hadits) akan tetapi ia dikritik oleh para ulama dari sisi hafalannya.

2.Riwayat Muhammad bin ‘Ajl an juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dan dalam riwayat tersebut tidak ada penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) .

3.Empat orang tsiqoh (terpercaya) meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Ajl an dan mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). Empat rawi tsiqoh tersebut adalah :

a.Al-Laits bin Sa’ad, riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.133 dan Al-Baihaqy dalam Sunannya 2/131.

b.Abu Kha lid Al-Ahmar, riwayat dikeluarkan oleh Muslim no.133, Ibnu Abi Syaibah 2/485, Abu Ahmad Al-Hakim dalam Syi’ar Ashabul Hadits hal.62, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/370 no.1943, Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194, Ad-Daraquthny dalam Sunannya 1/349, dan Al-Baihaqy 2/131, ‘Abd bin Humaid no.99.

c.Yahya bin Sa’id Al-Qothth on, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu Daud no.990, An-Nasai 3/39 no.1275 dan Al-Kubro 1/377 no.1198, Ahmad 4/3, Ibnu Khuzaimah 1/350 no.718, Ibnu Hibban no.1935, Abu ‘Awanah 2/247 dan Al-Baihaqy 2/132.

d.Sufyan bin ‘Uyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ad-Darimy no.1338 dan Al-Humaidy dalam Musnadnya 2/386 no.879.

e.Demikianlah riwayat empat rawi tsiqoh tersebut menetapkan bahwa riwayat sebenarnya dari Muhammad bin ‘Ajlan tanpa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan). Akan tetapi, Muhammad bin ‘Ajlan dalam riwayat Ziyad bin Sa’ad keliru lalu menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan).

4.Ada tiga orang rawi yang juga meriwayatkan dari ‘ Amir bin ‘Abdullah bin Zubair sebagaimana Muhammad bin ‘Ajlan juga meriwayatkan dari ‘Amir ini akan tetapi tiga orang rawi tersebut tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) , maka ini menunjukkan bahwa Muhammad bin ‘Ajlan yang menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) telah menyelisihi tiga rawi tsiqoh tersebut, oleh karenanya riwayat mereka yang didahulukan dan riwayat Muhammad bin ‘Ajlan dianggap syadz karena menyelisihi tiga orang tersebut.

Tiga orang ini adalah :

a.‘Utsman bin Hakim, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim no.112, Abu Daud no.988, Ibnu Khuzaimah 1/245 no.696, Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid 13/194-195 dan Abu ‘Aw anah 2/241 dan 246.

b.Ziyad bin Sa’ad, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/386 no.879.

c.Makhromah bin Bukair, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nas ai 2/237 no.1161 dan Al-Baihaqy 2/132.

Maka tersimpul dari sini bahwa penyebutan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) dalam hadits ‘Abdullah bin Zubair adalah syadz dan yang menyebabkan syadznya adalah Muhammad bin ‘Ajlan. Walaupun sebenarnya kesalahan ini bisa berasal dari Ziyad bin Sa’ad atau Ibnu Juraij akan tetapi qorinah (indikasi) yang tersebut di atas sangat kuat menunjukkan bahwa kesalahan tersebut berasal dari Muhammad bin ‘Ajl an. Wallahu A’lam.

Hadits Yang Kedua

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَيَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَيُشِيْرُ بِأُصْبِعِهِ وَلاَ يُحَرِّكُهَا وَيَقُوْلُ إِنَّهَا مُذِبَّةُ الشَّيْطَانِ وَيَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عََلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ

Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallahu ‘anhu- adalah beliau meletakkan tangan kanannya di atas lutut kanannya dan (meletakkan) tangan kirinya di atas lutut kirinya dan beliau berisyarat dengan jarinya dan tidak menggerakkannya dan beliau berkata : “Sesungguhnya itu adalah penjaga dari Syaithon”. Dan beliau berkata : “Adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengerjakannya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqot 7/448 dari jalan Katsir bin Zaid dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi’ dari Ibnu Hibban.

Derajat Hadits

Seluruh rawi sanad Ibnu Hibban tsiqoh (terpercaya) kecuali Katsir bin Zaid.

Para ulama ahli jarh dan ta’dil berbeda pendapat tentangnya. Dan kesimpulan yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar sudah sangat tepat menjelaskan keadaannya. Ibnu Hajar berkata : shoduq yukhti`u katsiran (jujur tapi sangat banyak bersalah), makna kalimat ini Katsir adalah dho’if tapi bisa dijadikan sebagai pendukung atau penguat. Ini ‘illat (cacat) yang pertama. Illat yang kedua ternyata Katsir bin Zaid telah melakukan dua kesalahan dalam hadits ini.

Pertama: Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar. Dan ini merupakan kesalahan yang nyata, sebab tujuh rawi tsiqoh juga meriwayatkan dari Muslim bin Abi Maryam tapi bukan dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar, akan tetapi dari ‘Ali bin ‘Abdirrahman Al-Mu’awy dari Ibnu ‘Umar.

Tujuh rawi tersebut adalah :

1.Imam Malik, riwayat beliau dalam Al-Muwaththo’ 1/88, Shohih Muslim 1/408, Sunan Abi Daud no.987, Sunan An-Nasai 3/36 no.1287, Shohih Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no.193, Musnad Abu ‘Awanah 2/243, Sunan Al-Baihaqy 2/130 dan Syarh As-Sunnah Al-Baghawy 3/175-176 no.675.

2.Isma‘il bin Ja’far bin Abi Katsir, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 2/236 no.1160, Ibnu Khuzaimah 1/359 no.719, Ibnu Hibban no.1938, Abu ‘Awanah 2/243 dan 246 dan Al-Baihaqy 2/132.

3.Sufyan bin ‘Uyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim 1/408, Ibnu Khuzaimah 1/352 no.712, Al-Humaidy 2/287 no.648, Ibnu Abdil Bar 131/26.

4.Yahya bin Sa’ id Al-Anshary, riwayatnya dikeluarkan oleh Imam An-Nasai 3/36 no.1266 dan Al-Kubro 1/375 no.1189, Ibnu Khuzaimah 1/352 no.712.

5.Wuhaib bin Kh alid, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 273 dan Abu ‘Awanah 2/243.6. ‘Abdul ‘Azi z bin Muhammad Ad-Darawardy, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Humaidy 2/287 no.648.

7.Syu’bah bin Hajjaj, baca riwayatnya dalam ‘Ilal Ibnu Abi Hatim 1/108 no.292.

Kedua : Dalam riwayatnya Katsir bin Zaid menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) dan ini merupakan kesalahan karena dua sebab :

a.Enam rawi yang tersebut di atas dalam riwayat mereka tidak menyebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) .

b.Dalam riwayat Ayyub As-Sikhtiany : ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-’Umary dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar juga tidak disebutkan lafadz laa yuharrikuha (tidak digerak-gerakkan) . Baca riwayat mereka dalam Shohih Muslim no.580, At-Tirmidzy no.294, An-Nasai 3/37 no.1269, Ibnu Majah 1/295 no.913, Ibnu Khuzaimah 1/355 no.717, Abu ‘Awanah 2/245 no.245, Al-Baihaqy 2/130 dan Al-Baghawy dalam Syarh As-Sunnah 3/174-175 no.673-674 dan Ath-Thobara ny dalam Ad-Du’a no.635.

Nampaklah dari penjelasan di atas bahwa hadits ini adalah hadits Mungkar. Wallahu A’lam.

Kesimpulan: Seluruh hadits yang menerangkan jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali adalah hadits yang lemah tidak bisa dipakai berhujjah .

Hadits-Hadits yang Menyatakan Bahwa Jari Telunjuk Digerak-Gerakkan

Sepanjang pemeriksaan kami, hanya ada satu hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan yaitu hadits Wa`il bin Hujr dan lafadznya sebagai berikut :

ثُمَّ قَبَضَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ فَحَلَقَ حَلْقَةً ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهِِ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُوْ بِهَا

Kemudian beliau menggenggam dua jari dari jari-jari beliau dan membuat lingkaran, kemudian beliau mengangkat jarinya (telunjuk-pent.), maka saya melihat beliau mengerak-gerakkannya berdoa dengannya”.

“Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad 4/318, Ad-Darimy 1/362 no.1357, An-Nasai 2/126 no.889 dan 3/37 no.1268 dan dalam Al-Kubro 1/310 no.963 dan 1/376 no.1191, Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa’ no.208, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan 5/170 no.1860 dan Al-Mawarid no.485, Ibnu Khuzaimah 1/354 no.714, Ath-Thobarany 22/35 no.82, Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib Al-Baghda dy dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/425-427. Semuanya meriwayatkan dari jalan Za`idah bin Qudamah dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syih ab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr.

Derajat Hadits

Zhohir sanad hadits ini adalah hasan, tapi sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa sanad hadits yang hasan belum tentu selamat dari ‘illat (cacat) dan syadz.

Berangkat dari sini perlu diketahui oleh pembaca bahwa hadits ini juga syadz dan penjelasannya adalah bahwa : Za`idah bin Qudamah adalah seorang rawi tsiqoh yang kuat hafalannya akan tetapi beliau telah menyelisihi dua puluh dua orang rawi yang mana kedua puluh dua orang rawi ini semuanya tsiqoh bahkan sebagian dari mereka itu lebih kuat kedudukannya dari Za`idah sehingga apabila Za`idah menyelisihi seorang saja dari mereka itu maka sudah cukup untuk menjadi sebab syadznya riwayat Za`idah.

Semuanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Dan dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz yuharrikuha (digerak-gerakkan) .

Dua puluh dua rawi tersebut adalah:

1.Bisyr bin Al-Mufadhdhal, riwayatnya dikeluarkan oleh Abu D aud 1/465 no.726 dan 1/578 no.957 dan An-Nasai 3/35 no.1265 dan dalam Al-Kubro 1/374 no.1188 dan Ath-Thobara ny 22/37 no.86.

2.Syu’bah bin Hajjaj, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/316 dan 319, Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya 1/345 no.697 dan 1/346 no.689, Ath-Thobar any 22/35 no.83 dan dalam Ad-Du’a n0.637 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/430-431.

3.Sufyan Ats-Tsaury, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318, An-Nas ai 3/35 no.1264 dan Al-Kubro 1/374 no.1187 dan Ath-Thobarany 22/23 no.78.

4.Sufyan bin ‘Uyyainah, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nas ai 2/236 no.1195 dan 3/34 no.1263 dan dalam Al-Kubro 1/374 no.1186, Al-Humaidy 2/392 no.885 dan Ad-Daraquthny 1/290, Ath-Thobar any 22/36 no.85 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/427.

5.‘Abdullah bin Idris, riwayatnya dikeluarkan oleh Ibnu M ajah 1/295 no.912, Ibnu Abi Syaibah 2/485, Ibnu Khuzaimah 1/353 dan Ibnu Hibban no.1936.

6.‘Abdul Wa hid bin Ziyad, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/316, Al-Baihaqy dalam Sunannya 2/72 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/434.

7.Zuhair bin Mu’ awiyah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318, Ath-Thobarany 22/26 no.84 dan dalam Ad-Du’a no.637 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/437.

8.Khalid bin ‘Abdillah Ath-Thahh an, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 1/259, Al-Baihaqy 2/131 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/432-433.

9.Muhammad bin Fudhail, riwayatnya dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah 1/353 no.713.

10.Sallam bin Sulaim, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thoy alisi dalam Musnadnya no.1020, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 1/259, Ath-Thobarany 22/34 no.80 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/431-432.

11.Abu ‘Awanah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar any 22/38 no.90 dan Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/432.

12.Ghailan bin J ami’, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany 22/37 no.88.

13.Qois bin Rabi’, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar any 22/33 no.79.

14.Musa bin Abi Katsir, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany 22/37 no.89.

15.‘Ambasah bin Sa’id Al-Asady, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobar any 22/37 no.87.

16.Musa bin Abi ‘ Aisyah, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany dalam Ad-Du’a no.637.

17.Khallad Ash-Shaffar, riwayatnya dikeluarkan oleh Ath-Thobarany dalam Ad-Du’a no. 637.

18.Jarir bin ‘Abdul Hamid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/435.

19.‘Abidah bin Humaid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/435-436.

20.Sholeh bin ‘Umar, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/433.

21.‘Abdul ‘Azi z bin Muslim, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/436-437.

22.Abu Badr Syuj a‘ bin Al-Walid, riwayatnya dikeluarkan oleh Al-Khatib dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/438-439.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa riwayat Za`idah bin Qudamah yang menyebutkan lafadz Yuharikuha (digerak-gerakkan) adalah syadz.

Kesimpulan: Penyebutan lafazh yuharrikuha (jari telunjuk digerak-gerakkan) dalam hadits Wa’il bin Hujr adalah lemah tidak bisa dipakai berhujjah . Wallahu A’lam.

<<<<Pendapat Para Ulama dalam Masalah Ini>>>>

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud dan perbedaan tersebut terdiri dari tiga pendapat :

Pertama: Tidak digerak-gerakkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang paling kuat dikalangan orang-orang Syafiiyyah dan Hambaliyah dan ini juga merupakan pendapat Ibnu Hazm.

Kedua: Digerak-gerakkan. Dan ini merupakan pendapat yang kuat dikalangan orang-orang Malikiyyah dan disebutkan oleh Al-Qodhi Abu Ya’la dari kalangan Hambaliyah dan pendapat sebagian orang-orang Hanafiyyah dan Syafiiyyah.

Ketiga:

Ada yang mengkompromikan antara dua hadits di atas. Syaikh Ibnu Utsaimin -rahimahullahu ta’ala- dalam Syarah Zaad Al-Mustaqni’ mengatakan bahwa digerak-gerakkan apabila dalam keadaan berdoa, kalau tidak dalam keadaan berdoa tidak digerak-gerakkan. Dan Syaikh Al-Albany – rahimahullahu ta’ala- dalam Tamamul Minnah mengisyaratkan cara kompromi lain yaitu kadang digerakkan kadang tidak. Sebab perbedaan pendapat ini adalah adanya dua hadits yang berbeda kandungan maknanya, ada yang menyebutkan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan dan ada yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan.

“Namun, dari pembahasan di atas yang telah disimpulkan bahwa hadits yang menyebutkan jari digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah dan demikian pula hadits yang menyebutkan jari tidak digerak-gerakkan adalah hadits yang lemah.”

Adapun cara kompromi yang disebutkan dalam pendapat yang ketiga itu bisa digunakan apabila dua hadits tersebut di atas shohih bisa dipakai berhujjah tapi karena dua hadits tersebut adalah hadits yang lemah maka kita tidak bisa memakai cara kompromi tersebut, apalagi hadits yang shohih yang telah tersebut di atas bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam hanya sekedar berisyarat dengan jari telunjuk beliau.

Maka yang akan kita bahas disini adalah apakah pada lafadz … (Arab) yang artinya berisyarat terdapat makna mengerak-gerakkan atau tidak. Penjelasannya adalah bahwa kata “berIsyaratt” itu mempunyai dua kemungkinan:

Pertama: Dengan digerak-gerakkan. Seperti kalau saya memberikan isyarat kepada orang yang berdiri untuk duduk, maka tentunya isyarat itu akan disertai dengan gerakan tangan dari atas ke bawah.

Kedua: Dengan tidak digerak-gerakkan. Seperti kalau saya berada dalam maktabah (perpustakaan) kemudian ada yang bertanya kepada saya : “Dimana letak kitab Shohih Al-Bukhory?” Maka tentunya saya akan mengisyaratkan tangan saya kearah kitab Shohih Al-Bukhory yang berada diantara sekian banyak kitab dengan tidak menggerakkan tangan saya.

Walaupun kata “berisyarat” itu mengandung dua kemungkinan tapi disini bisa dipastikan bahwa berisyarat yang diinginkan dalam hadits tersebut adalah berisyarat dengan tidak digerak-gerakkan. Hal tersebut bisa dipastikan karena dua perkara :

Pertama: Ada kaidah di kalangan para ulama yang mengatakan bahwa Ash Sholatu Tauqifiyah (sholat itu adalah tauqifiyah), maksudnya adalah tata cara sholat itu dilaksanakan kalau ada dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Maka hal ini menunjukkan bahwa asal dari sholat itu adalah tidak ada gerakan di dalamnya kecuali kalau ada tuntunan dalilnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan demikian pula berisyarat dengan jari telunjuk, asalnya tidak digerakkan sampai ada dalil yang menyatakan bahwa jari telunjuk itu diisyaratkan dengan digerakkan dan telah disimpulkan bahwa berisyarat dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk adalah hadits lemah. Maka yang wajib dalam berisyarat itu dengan tidak digerak-gerakkan.

Kedua: Dalam hadits ‘Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary N0. dan Imam Muslim No.538 :

إِنَّ فِي الصَّلاَةِ شُغْلاً

Sesungguhnya di dalam sholat adalah suatu kesibukan

Maka ini menunjukkan bahwa seorang muslim apabila berada dalam sholat ia berada dalam suatu kesibukan yang tidak boleh ditambah dengan suatu pekerjaan yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur’an atau hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam yang shohih.

Kesimpulan: Tersimpul dari pembahasan di atas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat (menunjuk) ketika tasyahud adalah tidak digerak-gerakkan. Wallahu A’lam.

Lihat pembahasan di atas dalam :• Kitab Al-Bisyarah Fi Syudzudz Tahrik Al-Usbu’ Fi Tasyahud Wa Tsubutil Isyarah , Al-Muhalla karya Ibnu Hazm 4/151, Subulus Salam 1/189, Nailul Authar, ‘Aunul Ma’bud 3/196, Tuhfah Al-Ahwadzy 2/160. • Madzhab Hanafiyah lihat dalam: Kifayah Ath-Tholib 1/357.• Madzhab Malikiyah: Ats-Tsamar Ad Dany 1/127, Hasyiah Al-Adawy 1/356, Al-Fawakih Ad-Dawany 1/192.• Madzhab Syafiiyyah dalam: Hilyah Al-Ulama 2/105, Raudhah Ath-Tholibin 1/262, Al-Majmu‘ 3/416-417, Al-Iqna‘ 1/145, Hasyiah Al-Bujairamy 1/218, Mughny Al-Muht aj 1/173.• Madzhab Hambaliyah lihat dalam: Al-Mubdi’ 1/162, Al-Furu‘ 1/386, Al-Inshaf 2/76, Kasyful Qon a 1/356-357.

Pertanyaan Kedua:

Dikalangan masyarakat ada sebagian orang yang berisyarat dengan jari telunjuknya pada saat duduk antara dua sujud sebagaimana berisyarat dengan jari telunjuk pada saat tasyahud, apakah hal tersebut ada tuntunan dalilnya dari hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam ?.

Jawab:

Ada hadits yang menjelaskan tentang hal tersebut, yaitu hadits Wa`il bin Hujr yang berbunyi :“Saya melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam takbir lalu beliau mengangkat tangannya ketika takbir, yakni beliau memulai sholat dan beliau mengangkat kedua tangannya ketika beliau takbir dan mengangkat kedua tangannya ketika beliau ruku’ dan mengangkat tangannya ketika beliau berkata : “Samiallahu liman hamidah” dan beliau sujud kemudian meletakkan tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau kemudian beliau sujud … kemudian beliau duduk membaringkan kaki kirinya kemudian beliau meletakkan kedua tangannya, yang kiri di atas lututnya yang kiri dan meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya kemudian beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan meletakkan ibu jari di atas jari tengah kemudian beliau menggenggam seluruh jari-jarinya kemudian beliau sujud …”.

Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abdur Razza q dalam Al-Mushonnaf 2/68 no.2522, Ahmad dalam Musnad nya 4/317 dan lafadz di atas adalah lafadz beliau, Ath-Thobarany 22/34 no.81 dan Al-Khatib Al-Baghdady dalam Al-Fashl Li Washil Mudraj 1/429-430. Semua meriwayatkan dari ‘Abdur Razzaq dari Sufyan Ats-Tsaury dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Hadits ini merupakan kunci penyelesaian dalam permasalahan ini, apabila hadits ini shohih (bisa diterima) maka berisyarat dengan telunjuk dalam duduk antara dua sujud adalah perkara yang disyariatkan tapi sebaliknya bila hadits ini lemah maka artinya perkara tersebut tidaklah disyariatkan, karena itulah kami mengajak untuk melihat derajat hadits ini.

Derajat Hadits Berisyarat Saat Duduk Diantara Dua Sujud

Telah dijelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh ‘ Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Dan yang meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib ada 23 orang rawi dimana 23 orang rawi ini sepakat menyebutkan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam berisyarat dengan jari telunjuknya, akan tetapi ada tiga bentuk riwayat yang menjelaskan tempat berisyarat dengan telunjuk pada riwayat mereka :

1.Ada riwayat yang menjelaskan bahwa tempat berisyarat hanya ketika tasyahud dan hal ini tersebut dalam riwayat Musa bin Abi Kats ir dan sebagian riwayat Syu’bah bin Hajjaj, Ibnu ‘Uyainah dan ‘Abdullah bin Idris.

2.Riwayat yang tidak menjelaskan dimana letak berisyarat dengan telunjuk tersebut tapi Zhohirnya hal tersebut dalam tasyahud. Bisa dilihat dalam riwayat Bisyr bin Mufadhdhal, Sufy an Ats-Tsaury, ‘Abdul Wahid bin Ziyad, Zuhair bin Mu’awiyah, Khalid bin ‘Abdullah Ath-Thahhan, Muhammad bin Fudhail, Sallam bin Sulaim, Abu ‘Awanah, Ghailan bin J ami’, Qois bin Rabi’, Musa bin Abi Katsir.

3.Dua riwayat di atas diselisihi oleh ‘Abdur Razzaq dalam periwayatannya dari Sufyan Ats-Tsaury dari ‘Ashim dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr kemudian menyebutkan isyarat dengan jari telunjuk pada duduk antara dua sujud.

Dari uraian di atas sangat jelas bahwa riwayat ‘Abdur Razz aq dari Sufyan Ats-Tsaury yang menjelaskan bentuk ketiga. Telah meyelisihi riwayat 22 orang rawi yang menjelaskan bentuk pertama maupun kedua. Maka bisa dipastikan bahwa riwayat ‘Abdur Razzaq terdapat kesalahan yang menyebabkan penyebutan berisyarat dengan telunjuk ketika duduk antara dua sujud dianggap syadz, sehingga riwayat ini tidak bisa diterima. Kesalahan yang terjadi dalam hadits ini mungkin berasal dari Sufyan Ats-Tsaury dan mungkin dari ‘Abdur Razzaq.

Akan tetapi, meletakkan kesalahan pada ‘Abdur Razzaq adalah lebih beralasan karena dua hal :

Pertama: ‘Abdur Razz aq walaupun seorang rawi tsiqoh (terpercaya) dan hafidz (seorang penghafal), tetapi beliau mempunyai awham (kesalahan-kesalahan) yang menyebabkan sebagian para ulama mengkritik beliau.

Kedua: ‘Abdur Razzaq telah menyelisihi dua rawi dari Sufyan Ats-Tsaury yang kedua rawi meriwayatkan dari Sufyan Ats-Tsaury dan menyebutkan isyarat pada duduk antara dua sujud.

Dua rawi tersebut adalah :

1.Muhammad bin Yusuf Al-Firy aby, riwayatnya dikeluarkan oleh An-Nasai 3/35 no.1264 dan Al-Kubro 1/374 no. 1187 dan Ath-Thobarany 22/23 no.78.

2.‘Abdullah bin Walid, riwayatnya dikeluarkan oleh Ahmad 4/318.

Riwayat dua orang rawi ini khususnya Al-Firy aby yang termasuk orang yang paling hafal riwayat-riwayat Sufyan Ats-Tsaury, semakin menguatkan bahwa riwayat ‘Abdur Razzaq adalah riwayat syadz. Maka jelaslah lemahnya riwayat ini yang dijadikan sebagai dalil disyariatkannya berisyarat dengan telunjuk pada duduk antara dua sujud. Karena itulah riwayat ini telah dilemahkan oleh dua orang ulama besar ahli hadits zaman ini yaitu Syaikh Al-Albany -rahimahullahu ta’ala- dan Syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy -rahimahullahu ta’ala-.

Kesimpulan : Tidak disyariatkan mengangkat telunjuk pada saat duduk antara dua sujud karena hadits yang menjelaskan hal tersebut adalah hadits syadz (lemah).

Lihat : Al-Bisyarah hal.75-77 dan Tamamul Minnah hal.214-216.

Pertanyaan Ketiga :

Apakah ada tuntunan dalam hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasalam ketentuan bahwa ketika disebutkan(), jari telunjuk mulai diangkat pada ucapan () (tepatnya di ucapan huruf hamzah) ?.

Jawab:

Madzhab kebanyakan orang-orang Syafiiyyah menyatakan bahwa disunnahkan berisyarat dengan jari telunjuk kemudian diangkat jari telunjuk tersebut ketika mencapai kata hamzah) dari kalimat (). Hal ini disebutkan oleh Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu‘ 3/434 dan dalam Minhaj Ath-Tholibin hal.12.Dan hal yang sama disebutkan oleh Imam Ash-Shon’ any dalam Subulus Salam 1/362 dan beliau tambahkan bahwa hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy. Namun tidak ada keraguan bahwa yang disyariatkan dalam hal ini adalah mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud hingga akhir. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih yang sangat banyak jumlahnya yang telah tersebut sebagiannya pada jawaban pertanyaan no.1 yang menjelaskan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam ketika duduk tasyahud beliau menggenggam jari-jari beliau lalu membuat lingkaran kemudian mengangkat telunjuknya, maka dzohir hadits ini menunjukkan beliau mengangkat jari telunjuk dari awal tasyahud sampai akhir.

Adapun bantahan terahadap madzhab orang-orang Syafiiyyah maka jawabannya adalah sebagai berikut :

1.Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy itu adalah hadits Khaf af bin Ima‘ dan di dalam sanadnya ada seorang lelaki yang tidak dikenal maka ini secara otomatis menyebabkan hadits ini lemah.

2.Hal yang telah disebutkan bahwa dzohir hadits-hadits yang shohih menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu alaihi wasalam mengangkat jari telunjuk dari awal hingga akhir menyelisihi hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqy tersebut sehingga ini semakin mempertegas lemahnya riwayat Al-Baihaqy tersebut.

3.Orang-orang Syafiiyyah sendiri tidak sepakat tentang sunnahnya mengangkat jari telunjuk ketika mencapai huruf hamzah () dari kalimat (), karena Imam An-Nawawy dalam Al-Majmu‘ 3/434 menukil dari Ar-Rafi’y (salah seorang Imam besar dikalangan Syafiiyyah) yang menyatakan bahwa tempat mengangkat jari telunjuk adalah pada seluruh tasyahud dari awal hingga akhir.

4.Hal yang disebutkan oleh orang Syafiiyyah ini tidak disebutkan di dalam madzhab para ulama yang lain. Ini menunjukkan bahwa yang dipakai oleh para ulama adalah mengangkat jari telunjuk pada seluruh tasyahud dari awal hingga akhir.

Kesimpulan:

Jadi, yang benar di dalam masalah ini adalah bahwa jari telunjuk disyariatkan untuk diangkat dari awal tasyahud hingga akhir dan tidak mengangkatnya nanti ketika mencapai huruf hamzah () dari kalimat () . Wallahu A’lam..

+ Catatan kesimpulan diatas:

Semuanya meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib bin Syihab dari ayahnya dari Wa`il bin Hujr. Menyelisihi dua puluh dua rawi tersebut tidak ada yang menyebutkan lafadz yuharrikuha (digerak-gerakkan) .

Dari Uraian di atas jelaslah bahwa riwayat Za’idah bin Qudamah yang menyebutkan lafadz Yuharrikuha (digerak-gerakan) adalah SYADZ.

Kesimpulan 1: Penyebutan lafadz yuharrikuha (Jari telunjuk digerak-gerakan) dalam hadits Wa’il bin Hujr adalah LEMAH tidak bisa dipakai berhujjah. Wallahu A’lam.

Kesimpulan 2: Tersimpul dari pembahasan diatas bahwa pendapat yang rojih tentang keadaan jari telunjuk dalam berisyarat (menunjuk) ketika tasyahud adalah TIDAK DIGERAK-GERAKAN. Wallahu A’lam.

Diikutip dari blog akh antosalafy: http://antosalafy.wordpress.com dinukil dari http://www.an-nashihah.com, Penulis : Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain, Judul asli: Kedudukan Hadits Menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Tasyahud, dengan sedikit tambahan kesimpulan.

Duhai saudara-saudariku tercinta yang dimuliakan oleh Allah ta’ala…

Islam merupakan dien yang damai dan pembawa keselamatan bagi umat manusia. Mengucapkan salam adalah adab dalam pergaulan sesama muslim dan menjadi salah satu identitas ke-Islaman seseorang sebagaimana yang diperintahkan dan dicontohkan oleh Baginda Rasulullah tercinta, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salam adalah ungkapan pengharapan dan do’a seseorang akan keselamatan, kedamaian, rahmat, dan berkah dari Allah ta’ala kepada saudara-saudari rahimakumullah. Dengan menyebarkan salam, akan terpancar keindahan dan perdamaian dalam Islam.

Selain itu, setiap muslim juga diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk menjaga dan menghormati hak-hak sesama. Oleh karena itu, Islam mewajibkan kepada pemeluknya agar selalu meminta izin terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan hak orang lain. Dengan memegang adab-adab izin ini, kehormatan, rasa cinta, dan keharmonisan dalam pergaulan akan senantiasa terpelihara.

Berkenaan dengan SALAM, Islam telah mengatur segala sesuatunya dengan begitu indah namun tegas. Maka dienul Islam pun memerintahkan kita agar tidak mengucapkan atau pun menjawab salam kepada bagi orang kafir.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian mengawali ucapan salam kepada kaum Yahudi dan Nasrani …” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

Namun sebaliknya, hamba yang shalih selalu bergegas dalam menjawab ucapan salam yang disampaikan oleh orang muslim, entah dia kenal atau tidak kenal (tapi tentu tahu bahwa dia adalah seorang Muslim). Sebab salam merupakan salah satu di antara Nama Allah. Salam berarti keamanan dan ketentraman.

Allah ta’ala berfirman, “Apakah kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa!” (QS. An-Nisa’ {4}: 86).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mughaffal, bahwa Rasulullah saw bersabda, “…Sedangkan manusia yang paling bakhil adalah orang yang bakhil untuk (memberi atau membalas) salam.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad jayyid).

Hamba yang shalih, tentu selalu memberi salam kepada saudaranya jika dia bertemu dengannya sambil tersenyum kepadanya, dan juga selalu menjawab salam. Jika dua orang muslim melakukan hal seperti itu, maka insyaAllah berguguranlah kesalahan (dosa) keduanya, seperti gugurnya dedaunan di musim kemarau jika mongering.

Saudara-saudariku tersayang rahimakumullah…

Hendaknya kita tidak mengganti salam dengan isyarat tangan atau model-model sapaan yang sering dibudayakan oleh orang-orang kafir. Diriwayatkan dari Anru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Bukan menjadi bagian kami, orang yang meniru-niru selain kami. Janganlah kalian menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani, karena salamnya kaum Yahudi adalah isyarat dengan jari. Sedangkan salamnya kaum Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan.” (HR. At-Tirmidzi).

Masih berkenaan dengan salam, maka dienul menyatakan tidak mengucapkan maupun menjawab salam orang yang sedang buang ari kecil/besar.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa pernah ada seseorang yang mengucapkan salam kepada Rasulullah saw ketika Beliau sedang buang air kecil, dan Beliau tidak menjawab salam yang diucapkan oleh orang tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).

Selanjutnya merupakan hal terpenting dalam pengucapan salam, namun sepertinya masih sangat banyak KEKELIRUAN fatal yang kita dengar atau dapati setiap harinya. Sesungguhnya memulai salam itu adalah dengan ucapan, “ASSALAMU’ALAYKUM; BUKAN di tulis/di ucapkan dengan ASS atau SALAM, seperti kecenderungan kaum JIL yang tidak pernah mengucapkan ‘assalamu’alaykum’. Begitu juga assalamu’alaykum BUKAN diucapkan dengan LAMLEKUM, SLAMLEKUM, atau KUM, naudzubillah!

At-Tirmidzi, Abu Dawud dan lainnya meriwayatkan dari Jabir bin Sulaim, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikus-salam’, karena alaikus-salam adalah salam penghormatan kepada orang-orang yang sudah meninggal. Tapi, ucapkanlah ‘as-salamu ‘alaik’.”

Keterangan : As-salamu ‘alaik adalah dalam bentuk sapaan tunggal, namun untuk jamak berubah menjadi as-salamu ‘alaikum.

Saudara-saudariku kekasih Rasulullah yang kucintai lillahi ta’ala…

Di atas Jean juga menyertakan ketentuan bahwa setiap muslim diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk menjaga dan menghormati hak-hak sesame (IZIN). Berkenaan dengan izin ini, insyaAllah terdapat 2 prinsip yang perlu kita perhatikan dengan sebenar-benarnya;

1. Tidak melihat ke dalam rumah orang lain tanpa izin. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Baginda Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa melihat (mengintip) isi rumah suatu kaum tanpa mendapatkan izin dari mereka, maka halal bagi mereka untuk mencukil matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat An-Nasi’i disebutkan, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa melihat ke dalam sisi rumah suatu kaum tanpa mendapatkan izin dari mereka, maka cukillah matanya, tanpa ada diyat atau qishash.”

2. Tidak menguping pembicaraan orang. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra, bahwa Baginda Rasulullah saw bersabda, “…Barangsiapa menguping pembicaraan suatu kaum, sedangkan mereka tidak ingin hal itu terdengar orang lain, maka akan dituangkan pada kedua telinga orang tersebut lelehan timah pada hari kiamat …” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian telah Jean sampaikan penjelasan secara singkat perihal adab mengucapkan salam dan perkara izin, berikut dalil-dalilnya. Semoga bermanfaat…

Barakallahu fiikum,
Wassalamu’alaykum wr.wb.
~∂eanny♥divΞ

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini…
Source: http://arrahmah.com

Tahlilan…apa tuh??

Posted: 6 Desember 2010 in Uncategorized

Itu secara umum diartikan berkumpul untuk berdo’a/berdzikir, dan sebagian bacaannya adalah bacaan Tahlil, kalimat paling bagus , yaitu bacaan LAA ILAHA ILALLOH . Membaca Dzikir atau tahlil, sangat dianjurkan oleh Syari’at Islam. Semua orang Islam, sudah selayaknya menyukai berdzikir dan berdo’A karena merupakan perintah yang ada pada Al Qur’an dan  Sunnah  Nabi SAW. Hal ini bisa dilakukan kapan saja. Apakah ada kematian atau lebih lebih ketika ada yang meninggal, karena amal orang yang meninggal itu sudah terputus kecuali tiga perkara, yaitu Amal jariah dishodaqohkan yang bermanfaat, Ilmu yang bermanfaat, dan Anak sholeh/sholehah yang mendo’akan, hal ini Om Al Fatih tahu  haditsnya kan ? Nah, kita mendo’akan atau tahlilan itu, bisa menjadi bagian dari yangtiga tadi, karena amal si mati, kita kenal, maka kita mendo’akannya. Alangkah kasihannya saudara kita yang sudah meninggal jika kita tidak mau mendo’akannya ketika dia sudah meninggal, padahal ada ayat Alloh yang bisa kita rujuk akan hal ini. Dzikir/Do’a/Tahlil yang kita baca ini sangat ditunggu olehmereka yang sudah meninggal ini dialam kuburnya. Berikut ini rujukan tentang dzikir/berdo’a , lalu soaltahlilan   kematian.

QS.Al Baqoroh, ayat  152 : ” Karena itu, dzikirlah ( ingatlah ) kamu kepada-Kuniscaya Aku ingat  (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat) -Ku.” QS Tho-ha ayat 124 :  ” Dan barangsiapa Tidak Dzikir pada(berpaling dari> peringatan-)Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan  Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“. Juga banyak hadits Nabi SAW tentang kebaikkan berdzikir danberdo’a. Jumhur Ulama tentang Tahlil untuk kematian. Mayoritas Ulama Ahlu Sunnah wal-jamaah berpendapat bahwa boleh mengadakan Dzikir dan Do’a bersama guna mendo’akan (menghadiahkan pahalanya) untuk orang yang sudah meninggal tersebut. Pendapat ini berdasarkan Nash sebagai berikut : QS Muhammad ayat 19 : 019. Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan, yang hidup maupun yang telah meninggal. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha,dan tempat tinggalmu.

QS Al Hasyr, ayat 10 : ” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin danAnshar),mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara- saudara kami yang telah mendahului kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya  Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. Hadits Nabi SAW, ” Tidak ada seseorang yang dishalatkan jenazahnya oleh sejumlah orang Islam yang jumlahnya 100 orang dan semuanya memohonkan syafaat kepadanya melainkan Alloh mensyafaatinya ( HR. Muslim )  Hadits tentang wasiat Ibnu Umar pada Syarah Aqidah Thahawiyah (hal. 458) : “Dari Ibnu Umar RA: Bahwasanya beliau berwasiat agar diatas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal Al Baqoroh dan akhirnya. Dan dari sebagian Muhajirin dinukil juga adanya pembacaan surat Al baqoroh” Nah, soal makanan yang dibagikan, itu tradisi masing-masing tempat berbeda, kalau ditempat saya tidak ada. Ketika tahlilansampai 7 hari, tidak ada bagi-bagi berkat, kalaupun ada makanan, itu adalah disediakan oleh Perkumpulan Kematian di Lingkungan kami, jadi tidak membebani yang sedang berduka. Kalau di lingkungan Om Fatih seperti yang Om sebutkan, ya diajak omong saja, sampaikan yang lebih baik untuk dilakukan, dengan cara santun dan baik, faa insya Alloh akan di ikuti. Saya ikut ngedo’ain ya om. Soal waktu, apakah 3 hari, 7 hari, dan sebagainya, lho…..apa Alloh membatasi kita kapan tidak boleh berdo’a atau berdzikir ? Bukankah kita diperintahkan berdzikir setiap waktu, dengan sebanyak- banyaknya ? Nah, jika ada yang melakukan yang 3 hari, 7 hari, itu kan bagian dari yang setiap waktu. Jikapun kita lakukan waktu tertentu, ini kan sesuai QS Al Asr’  ayat 1: ” Ingatlah Waktu “. Alloh yang memerintahkan kita untuk ingat waktu. Penulis :  Hamba Allah (NN)

Tentang Ilmu

Posted: 6 Desember 2010 in Uncategorized

Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata’ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah  satu
pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang
membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah
Subhanahu
wata’ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang
yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk,  amalkanlah ilmu itu

QS An Nahl ayat 125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ini ada hadits yang diriwayatkan Imam Buchori dan Muslim :

1. No. Hadits 284 Diriwayatkan daripada Abu Zar r.a katanya: Aku
bertanya: Wahai Rasulullah! Masjid manakah yang pertama diasaskan atas
muka bumi ini? Rasulullah menjawab: Masjidil Haram. Aku bertanya lagi:
Setelah itu, masjid mana pula? Baginda menjawab: Masjidil Aqsa.
Seterusnya aku bertanya: Berapa lamakah beza waktu di antara keduanya?
Baginda menjawab: Empat puluh tahun. Walau pun begitu, di mana saja
kamu berada apabila tiba waktu sembahyang, dirikanlah sembahyang
kerana di situ juga merupakan masjid

2. No. hadits 285 Diriwayatkan daripada Jabir bin Abdullah al-Ansari
r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku diberi lima perkara yang
tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Semua Nabi
sebelumku hanya diutuskan khusus kepada kaumnya sahaja, sedangkan aku
diutuskan kepada manusia yang berkulit merah dan hitam iaitu seluruh
manusia. Dihalalkan untukku harta rampasan perang, sedangkan ianya
tidak pernah dihalalkan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Disediakan
untukku bumi yang subur lagi suci sebagai tempat untuk sujud iaitu
sembahyang. Maka sesiapa pun apabila tiba waktu sembahyang walau
dimana saja dia berada hendaklah dia mengerjakan sembahyang. Aku juga
diberikan pertolongan secara dapat menakutkan musuh dari jarak
perjalanan selama satu bulan. Aku juga diberikan hak untuk memberi
syafaat

3. No. hadits 286 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya:
Sesungguhnya Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Aku diberikan enam
kelebihan berbanding Nabi-nabi lain; Aku diberi kata-kata yang ringkas
tetapi mengandungi erti yang banyak iaitu al-Quran dan Hadis. Aku
diberi pertolongan dengan cara dapat menakutkan musuh, dihalalkan
bagiku harta rampasan perang dan dijadikan kepadaku bumi yang suci
sebagai tempat sujud. Aku juga diutuskan kepada seluruh makhluk dan
aku adalah sebagai penutup bagi seluruh para Nabi iaitu Nabi yang
terakhir diutuskan

http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/bacaan-sesudah-sholat-lima-waktu.htm

Di antara manfaat sholat lima waktu setiap hari ialah dihapuskannya dosa-dosa oleh Allah ta’aala. Subhaanallah…! Bayangkan, setiap seorang muslim selesai mengerjakan sholat yang lima waktu berarti ia baru saja membersihkan dirinya dari tumpukan dosa yang sadar tidak sadar telah dikerjakannya antara sholat yang baru ia kerjakan dengan sholat terakhir yang ia ia kerjakan sebelumnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Sholat lima waktu dan (sholat) Jum’at ke (sholat) Jum’at serta dari Ramadhan ke Ramadhan semua itu menjadi penghabus (dosanya) antara keduanya selama ia tidak terlibat dosa besar.” (HR Muslim 2/23)

Bila seorang muslim memahami dan meyakini kebenaran hadits di atas, niscaya ia tidak akan membiarkan satu kalipun sholat lima waktunya terlewatkan. Bahkan dalam hadits yang lain dikatakan bahwa bila seorang muslim khusyu dalam sholatnya, maka ia akan diampuni segenap dosanya di masa lalu. Subhaanallah…!

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidak seorangpun yang bilamana tiba waktu sholat fardhu lalu ia membaguskan wudhunya, khusyu’nya, rukuknya, melainkan sholatnya menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lampau, selagi ia tidak mengerjakan dosa yang besar. Dan yang demikian itu berlaku untuk seterusnya.” (HR Muslim 2/13)

Setiap hari manusia senantiasa melakukan dosa, baik sengaja maupun tidak. Maka seorang mu’min yang sadar pasti akan menempuh segenap upaya yang bisa mendatangkan ampunan Allah ta’aala dan dapat menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Sehingga Allah ta’aala menggambarkan ciri orang bertaqwa sebagai orang yang bersegera menggapai ampunan Allah ta’aala.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

Seorang yang beriman dan bertaqwa sangat tamak akan ampunan Allah ta’aala sebab ia tahu benar bahwa jika ia wafat dalam keadaan telah diampuni segenap dosanya berarti ia akan mengalami ketenteraman dalam hidup di alam kubur dan di akhiratnya. Demikianlah Nabiyullah Ibrahim ’alihis-salaam tatkala bermunajat di hadapan Allah ta’aala:

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

”…dan (Dialah Tuhan) Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS Asy-Syuara ayat 8)

Maka untuk menyempurnakan datangnya ampunan Allah ta’aala dan dihapuskannya segenap kesalahan, seorang mu’min menutup sholat lima waktunya dengan membaca wirid yang diajarkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Suatu bentuk wirid yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam jamin akan menyebabkan semua kesalahan seseorang bakal dihapus Allah ta’aala walaupun sebanyak lautan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu ia berkata bahwa Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa bertasbih (membaca SubhanAllah) 33 kali sesudah setiap sholat lalu bertahmid (membaca Alhamdulillah) 33 kali lalu bertakbir 33 (membaca Allah Akbar) kali maka itulah sembilanpuluh sembilan. Lalu ia menyempurnakan menjadi seratus dengan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tidak ada ilah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segenap kerajaan dan miliknya segenap puji-pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Berkuasa, maka dihapuskan segenap kesalahannya walaupun sebanyak lautan.” (HR Muslim 939)

Zuhudlah Terhadap Dunia

Senin, 12/07/2010 10:25 WIB |ERA MUSLIM

Zuhud adalah salah satu akhlak utama seorang muslim, terutama saat dihadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala perbendaraannya, apakah itu kekuasaan, harta kedudukan, dan segala fasilitas lainnya.

Karena itu, zuhud adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan seorang mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.

Apalagi seorang yang menyandang predikat (gelar) da’i. Jika orang banyak mengatakan dia ‘sama saja’, tentu nilai-nilai yang didakwahinya tidak akan membekas ke dalam hati orang-orang yang di dakwahinya. Dakwah layu sebelum berkembang. Karena itu, stiap mukmin , terutama para da’i, harus menjadikan zuhud sebagai perhiasan jati dirinya.

Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud. Secara syar’i, zuhud bermakna adalah mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluan. Abu Idris al-Khaulani bekata, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada di tangan kita. Ibnu Khafif berkata, “Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti, sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang ditakuti bahayanya di akhirat nanti”.

Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Zuhudlah terhadap apa yang di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu. (HR.Ibnu Majah, Tabrani, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Dalam generasi salaf dan tabi’in ada mutiara-mutiara yang indah dan cemerlang, yang menghiasi peradaban Islam, bukan peradaban materialisme. Betapapun mereka orang-orang yang memiliki kesempatan mereguknya. Tetapi, tak juga melakukan untuk mereguk kenikmatan itu.

Seperti kisah, Muhammad bin Waasi’ Al-Azdi, yang mendapatkan julukan guru orang-orang zuhud di zamannya. Ia hidup dizamannya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Saat itu di mana Yazid bin Muhallab bin Abi Sufrah, salah satu pedang Islam yang terhunus, dan menjadi wali di Khurasan ysnh kuat, bergerak dengan sangat bersama dengan pasukannya yang berjumlah seratus ribuorang, ditambah lagi dengan para sukarelawan dari mereka yang ingin mencaria syahadah dan mencari pahala.

Pusakan Islam yang dipimpin Yazid bin Muhallab ingin menaklukkan daerah Jurjan dan Thabaristan. Di barisan depan ada generasi tabi’in utama, bernama Muhammad bin Waasi’ dari Basrah yang dikenal dengan ‘Zainul Fuqaha’ (hiasan para ahli fikih), dan sering dipanggil Abid Basrah dan merupakan murid dari shahabat Anas bin Malik al-Anshari, pembantu Rasululah Shallahu Alaihi Wa Sallam.

Meski tubuhnya nampak kurus dan usianya yang sudah lanjut, Muhammad bin Waasi’, memegang posisi yang cukup penting dalam pasukan Islam. Pasukan Islam merasa terhibur dengan cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang cerah, dan makin bersemangat bila mendengar nasihat-nasihat yang keluar dari lidahnya yang lembut dan menjadi tenang karena do’anya yang mustajab bila mendapati kesulitan. Bila panglima perang menyeru, maka Muhammad Waasi’ menyeru, “Wahai pasukan Allah, menjulah!”, sebanyak tiga kali. Begitu mendengar suaranya, segenap prajurit pasukan Islam itu siap berperang menghadap musuh dengan penuh keberanian.

Ketika berlangsung peperangan yang amat dahsyat, terdapat seorang prajurit musuh, yang sangat tinggi dan kekar. Perang tanding satu lawan satu, antara pasukan Islam dengan pasukan musyrikin. Diantara pasukan musuh memiliki prajurit berbadan tinggi besar dan kekar, dan menantang Muhammad Waasi’ untuk berperang dengannya.

Keduanya berperang seperti seekor singa yang kalap. Yazid bin Muhallab, merasa sangat kagum melihat pertempuran yang dahsyat itu. Kilatan pedang dan senjata, yang bertubi-tubi. Muhallab bertanya, “Alangkah hebatnya. Siapakah dia?”. Orang-orang menjawabnya, “Dia adalah orang yang mendapat berkat doa dari Muhammad bin Waasi’”, ucap mereka.

Pertempuran yang sangat dahsyat itu disudahi dengan kemenangan pasukan Islam yang dipimpin oleh Yazid bin Muhallab. Kemudian, raja kaum musyrikin itu, menawarkan perdamaian kepada kaum muslmin, dan akan menyerahkan seluruh kekayaan negerinya asalkabn keluarga dan hartanya aman. Tawaran itu disetujui Yazid. Mereka harus membayar sebesar 700.000 dirham, menyerahkan 400 ekor unta bermuatan za’faran (kunyit), dan 400 orang yang setiap orangnya membawa satu gelak perak, memakai topi dari sutera dan beludru dan megnenakan mantel seperti yang dikenakan isteri-isteri prajurit mereka.

Perangpun usai, Yazid bin Muhallab berkata kepada bendaharanya, “Sisihkan sebagian ghanimah itu untuk kita. Berikan sebagai imbalan jasa kepada yang berhak”, tukasnya. Diantara ghanimah itu ditemukan pula oleh kaum muslimin sebuah mahkota terbuat dari emas murni bertatahkan intan permata beraneka warna dalam ukiran yang indah dipandang mata. Lalu, Yazid mengacungkan tinggi-tinggi, agar semua dapat melihat mahkota itu. Yazid berkata, Adakah kalian melihat orang yang tak menginginkan benda ini?, tanyanya. Mereka berkata, “Semoga Allah memperbagus keadaan Amir, siapa pula ylang akan menolak barang itu?”, tambahnya.

Yazid menukas, “Kalian akan melihat bahwa ada diantara umat Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam, senantiasa tidak menginginkan harta ini ataupun yang semacam dengan ini yang ada diatas bumi”, cetusnya. Kemudian Yazid memanggilnya pembantunya, “Carilah Muhammad bin Waasi’”. Lelaki tua itu ditemukan oleh pembantunya Yazid, dan ia dalam keadaan sedang berzikir, beristighfar, bersyukur dan berdo’a. “Amir Yazid memanggil anda sekarang juga”, ujar utusan itu. Maka, beliau berdiri dan berjalan mengikuti utusan Yazid.

kemudian pemimpin pasukan Islam, Yazid bin Muhallab bertemu dengan Muhammad bin Waasi’ berkata, “Wahai Abu Abdillah, pasukan muslimin telah menemukan mahkota yang sangat berharga ini. Aku melihat andalah yang layak untuk menerimanya, sehingga kujadikan mahkota ini sebagai bagianmu, dan orang-orang telah setuju”. Muhammad, “Anda menjadikan ini sebagai bagianku wahai Amir?”, tanyanya. Yazid, “Benar. Ini bagianmu”, tambahnya. Muhammad, “Aku tidak memerlukannya. Semoga Allah membalas kebaikan anda dan mereka”, tegas Muhammad. Yazid, “Aku telah bersumpah bahwa engkaulah yang harus mengambil ini”.

Dengan terpaksa Muhammad bin Waasi’ menerimanya dikarenakan sumpah amirnya. Setelah itu Muhammad berpamitan kepada Yazid dan meninggalkannya. Orang-orang yang tak mengenalnya berkata sinis, “Nyatanya dia bawa juga harta itu”.
Sementara itu Yazid memerintahkan prajuritnya menguntit sheikh itu dengan diam-diam, apa yang hendak dilakukannya terhadap benda yang sangat berharga itu.

Muhammad bin Waasi’ berjalan dengan menentang harta berharga ditangannya. Di tengah jalan beliau berjumpa dengan orang asing, yang kusut masai dan pakaiannya compang-camping meminta-minta kalau-kalau ada bantuan dari harta Allah Rabbul Alamin. Sheikh itu segera menoleh ke kanan dan ke kiri dan ke belakang … dan setelah yakin tidak ada yang melihat, diberikannya mahkota itu kepada orang yang miskin itu. Orang miskin pergi dengan suka-cita, seakan beban yang dipikulnya telah diangkat dari punggungnya.

Tanpa disadari seorang prajurit memegang tangan orang miskin itu, dan mengajaknya menghadap amir untuk menceritakan kejadiannya. Mahkota itu diambil lagi oleh amir, dan diganti dengan harta sebanyak yang dimintanya. Yazid berkata pasukannya, “Bukankah telah aku katakan kepada kalian bahwa diantara umat Muhammad senantiasa ada orang-orang yang tidak membutuhkan mahkota ini atau yang semisalnya”, ujar Yazid.

Sebuah kazanah dalam sejarah Islam, yang sangat berharga bagi kehidupan kaum muslimin, dan sekaligus tadzkiroh yang tak akan habis-habis.


Ghibah/Menggunjing” ketegori Muslim. Dosa-Dosa Yang Dianggap Biasa

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Dalam banyak pertemuan di majlis, seringkali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing umat Islam. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut, dan menyeru agar segenap hamba menjauhinya. Allah menggambarkan dan mengidentikkan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikkan. Allah berfirman :

“Artinya : Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan makna ghibah dalam sabdanya :

“Artinya : Tahukah kalian apakah ghibah itu ? “Mereka menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. “Beliau bersabda :”Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan : “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu terdapat pada saudaraku ? “Beliau menjawab : “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya”.

Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka . Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.

Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya , dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya”.

Wajib bagi orang yang hadir dalam majlis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya.

“Artinya : Barangsiapa menolak kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya”.

Sumber Ghibah/Menggunjing : http://assunnah.or.id

JAMA ‘TAQDIM / JAMA’ TAKHIR

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada dua jenis jama’, yang pertama disebut jama’ taqdim dan yang kedua
disebut jama’ ta’khir. Jama’ taqdim adalah melakukan dua shalat pada
waktu shalat yang pertama. Jama’ taqdim ini hanya ada dua saja. yaitu
shalat Zhuhur dan shalat Ashar dilakukan pada waktu Zhuhur. Lalu shalat
Maghrib dan shalat Isya’ dilakukan pada waktu Maghrib. Di luar keduanya,
tidak ada jama’ lainnya.

A. Hal-hal yang Membolehkan Jama’

1. Dalam keadaan safar yang panjang sejauh orang berjalan kaki atau naik
kuda selama dua hari. Para ulama kemudian mengkonversikan jarak ini
menjadi 89 km atau tepatnya 88,704 km.
2. Hujan yang turun membolehkan dijama’nya Mahgrib dan Isya’ di waktu
Isya, namun tidak untuk jama’ antara Zhuhur dan Ashar. Dengan dalil: ??
?? ????? ??? ??? ??? ???? ?? ???? ??? ?????? ??????? – ???? ??????
Artinya: Sesungguhnya merupakan sunnah bila hari hujan untuk menjama’
antara shalat Maghrib dengan Isya’ (HR. Atsram)
3. Keadaan sakit menurut Imam Ahmad bisa membolehkan seseorang menjama’
shalat. Dalilnya adalah hadits nabawi: ??? ????? ? ??? ?? ??? ??? ???
??? Bahwa Rasulullah SAW menjama’ shalat bukan karena takut juga bukan
karena hujan.

B. Syarat Jama’ Taqdim

Untuk dibolehkan dan sah-nya jama’ taqdim, paling tidak harus dipenuhi 4
syarat. Bila salah satu syarat ini tidak terpenuhi, tidak sah bila
dilakukan jama’ taqdim.

1. Niat Sejak Shalat yang Pertama

Misalnya kita menjama’ shalat Zhuhur dengan shalat Ashjar di waktu
Zhuhur, maka sejak berniat shalat Zhuhur kita juga harus sudah berniat
untuk menjama’ dengan Ashar. Niat untuk menjama’ ini masih dibolehkan
selama shalat Zhuhur belum selesai. Jadi batas kebolehan berniatnya
hingga sebelum mengucapkan salam dari shalat Zhuhur. Bila selesai salam
kita baru berniat untuk menjama’, jama taqdim tidak boleh dilakukan.
Sehingga shalat Ashar hanya boleh dilakukan nanti bila waktu Ashar telah
tiba.

2. Tertib

Misalnya kita menjama’ shalat Maghrib dengan shalat Isya’ dengan taqdim,
yaitu di waktu Maghrib, maka keduanya harus dilakukan sesuai dengan
urutan waktunya. Harus shalat Maghrib dulu yang dikerjakan baru kemudian
shalat Isya’. Bila shalat Isya’ yang dikerjakan terlebih dahulu, maka
tidak sah hukumnya.

Namun bila bukan jama’ taqdim, dimungkinkan untuk melakukannnya dengan
terbalik, yaitu shalat Isya’ dulu baru shalat Maghirib. Meski pun tetap
lebih utama bila dilakukan dengan tertb urutan waktunya.

3. Al-Muwalat (Bersambung)

Maksudnya antara shalat yang awal dengan shalat kedua tidak boleh
terpaut waktu yang lama. Boleh diselingi sekadar lama waktu orang
melakukan shalat dua rakaat yang ringan. Juga boleh diselingi dengan
mengambil wudhu’. Tapi tidak boleh bila diselingi pekerjaan lain dalam
waktu yang terlalu lama.

Disunnahkan di antara jeda waktu itu untuk mengulangi azan dan iqamah,
tapi bukan shalat sunnah. Sebab pada hakikatnya kedua shalat ini
disatukan. Ketiga syarat ini berlaku mutlak untuk jama’ taqdim namun
untuk jama’ ta’khir bukan menjadi syarat, hanya menjadi sunnah saja.

4. Masih Berlangsungnya Safar Hingga Takbiratul Ihram Shalat yang Kedua

Misalnya kita menjama’ taqdim shalat Maghrib dengan Isya’ di waktu
Maghrib, maka pada saat Isya’ kita harus masih dalam keadaan safar atau
perjalanan. Paling tidak pada saat takbiratul ihram shalat Isya’.

Hal itu terbayang kalau kita melakukannya di kapal laut misalnya. Kapal
itu harus masih dalam pelayaran pada saat kita takbiratul ihram shalat
Isya. Tidak mengapa bila selama shalat Isya itu, kapal sudah merapat ke
pelabuhan negeri kita.

B. Syarat Jama’ Ta’khir

Sedangkan syarat dibolehkannya jama’ ta’khir hanya ada dua saja. Yaitu
adalah:

1. Berniat untuk Menjama’ Ta’khir Sebelum Habisnya Waktu Shalat yang
Pertama

Misalnya kita berniat untuk menjama’ shalat Maghrib dengan Isya di waktu
Isya’, maka sebelum habis waktu Maghrib, kita wajib untuk berniat untuk
menjama’ takhir shalat Maghrib di waktu Isya’. Niat itu harus dilakuakan
sebelum habisnya waktu shalat Maghrib.

2. Safar Harus Masih Berlangsung Hingga Selesainya Shalat yang Kedua.

Kita masih harus dalam perjalanan hingga selesai shalat Maghrib dan
Isya’. Tidak boleh jama’ ta’khir itu dilakukan di rumah setelah safar
sudah selesai. Sebab syarat menjama’ shalat adalah safar, maka bila
safar telah selesai, tidak boleh lagi melakukan jama’. Oleh karena itu,
bila kita mau menjama’ ta’khir, jangan lakukan di rumah, melainkan
sebelum sampai ke rumah atau selama masih dalam kondisi perjalanan.

Bolehkah Shalat Isya’ Dulu Baru Maghrib?

Bila jama’ taqdim, tidak boleh mendahulukan shalat Isya’, tapi boleh
bila jama’ ta’khir. Namun tetap lebih utama bila dilakukan sesuai urutan
shalatnya. Kecuali ada uzdur tertentu yang tidak memungkinkan
mendahulukan shalat Maghirb. Misalnya, di waktu Isya di suatu masjid di
mana orang-orang sedang shalat Isya’, tidak mungkin para musafir yang
singgah mengerjakan shalat Maghrib dengan berjamaah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Rubah ID WordPress

Posted: 6 Desember 2010 in Uncategorized

Nama subdomain yg diijinkan minim 4 karakter xxxx.wordpress.com — buat blog baru dgn nama yg diinginkan, masuk dasbor > blogku, centang alamat blog lama, transfer ke blog baru.

Di Amerika, terdapat banyak hari istimewa yang digunakan untuk menghormati atau menghargai orang-orang tertentu. Beberapa diantaranya adalah: Hari Ayah, Hari Ibu, Hari Kakek, Hari Nenek, Hari Berkabung, Hari Buruh, dan lainnya. Kita telah mengetahui makna, ide, idealisme dan filsafat dari hari-hari tersebut. Dan kita pun sebaiknya menghargai usaha mereka yang telah mempeloporinya.

Dalam rangka menghargai dan menghormati orangtua, kita mengagumi usaha dari anak-anak yang mengingat orangtua mereka melalui hari-hari istimewa tersebut dengan mengirimi orangtua mereka kartu ucapan dan hadiah. Meskipun demikian, kita berharap bahwa penghargaan yang diberikan terhadap orangtua kita tidak hanya dilakukan pada satu hari saja dalam satu tahun, tapi juga setiap hari setiap tahunnya.

ORANGTUA DALAM AL-QUR’AN

Seorang anak harus menghargai dan menghormati orangtuanya setiap hari. Allah meminta umat manusia mengormati kedua orangtuanya setelah mereka dapat menghormati dan menghargai Allah. Di dalam Al-Qur’an, kita mengetahui bahwa kedua orangtua kita disebutkan di dalam Al-Qur’an dengan penuh penghargaan dan penghormatan, walaupun mereka sudah sangat tua. Dalam surat Al-Isra menyebutkan bagaimana kita harus memperlakukan kedua orangtua kita. Allah SWT mengatakan:

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil. (QS. Al-Israa: 23-24)

Pengakuan dan penghormatan terhadap kedua orangtua disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak sebelas kali; dan dalam tiap kalinya, Allah mengingatkan kepada anak-anak mereka untuk selalu mengakui dan menghargai rasa kasih sayang yang telah diberikan orangtua mereka. Dalam ayat ini, Allah meminta kepada kita untuk mengakui kedua orangtua:

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapak-nya.” (QS. Al-Ankabut: 8 dan Al-Ahqaaf: 15)

  1. Permintaan untuk menghormati kedua orangtua juga disebutkan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an:

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak…” (QS.Al-Baqarah: 83)

  1. Dalam Surat An-Nisaa’, Allah swt menekankan kembali mengenai sikap baik terhadap orangtua:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak..” (QS. An-Nisaa’:36).

  1. Perintah yang sama juga diulangi lagi dalam Surat Al-An’am, dimana Allah berkata:

Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak…” (QS. Al-An’am: 151)

IBU

Islam telah memerintahkan secara jelas untuk menghormati dan menghargai kedua orangtua, meskipun demikian, para ibu mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang lebih dalam Islam. Sikap ini dapat dipahami bila kita menyadari betapa besarnya pengorbanan dan perjuangan ibu kita dalam hidup. Berkenaan dengan hal ini, Nabi Muhammad saw berkata:

Dikisahkan oleh Abu Hurairah: Seorang laki-laki mendatangi Nabi Muhammad saw dan bertanya kepadanya, “Siapakah yang dapat aku jadikan sebagai teman dekat?” , Lalu Nabi saw pun menjawab:

Ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu, lalu orang terdekatmu dan orang dekat setelahnya

Islam mendorong umat muslim untuk tetap menghormati kedua orangtua meskipun mereka non-muslim. Bila orangtua memaksa anak-anaknya untuk melawan Islam, maka anak-anak mempunyai hak untuk tidak mentaati orangtua, tetapi mereka tetap harus bersikap baik. Dalam hal ini, Allah swt berfirman dalam surat Luqman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15)

MENGHORMATI

Islam mengajarkan kita untuk selalu menghormati kedua orangtua dalam doa kita kepada Allah. Nabi Muhammad saw berkata:

Dikisahkan oleh Abi Abdurrachman Abdullah bin Massoud berkata: Aku bertanya kepada Nabi saw, “Amal baik manakah yang lebih disukai oleh Allah?”, lalu Rasul menjawab, “Shalat tepat waktu”. Kemudian aku bertanya, “Setelah itu apa lagi?”, Rasul menjawab, “Bersikap baik pada orangtua”. Lalu aku bertanya lagi, “Setelah itu apa?”. Dia menjawab, “Jihad di jalan Allah”.

Dalam Islam, menghormati kedua orangtua adalah sangat baik sehingga anak dan kekayaan yang dimilikinya dianggap milik orang tua. Dalam hal ini Rasulullah saw berkata:

Dikisahkan oleh Aisyah bahwa seseorang datang kepada Nabi Muhammad saw untuk mencari jalan keluar atas permasalahan dia dengan ayahnya setelah dia memberikan hutang kepada ayahnya. Lalu Nabi saw berkata kepada orang tersebut: “Kamu dan kekayaanmu adalah milik ayahmu”

KESIMPULAN AKHIR

Kita berharap dan berdoa bahwa kita semua akan dapat selalu menghormati kedua orangtua baik saat mereka masih hidup ataupun sudah meninggal. Kalian dapat menghormati dan menghargai mereka setelah mereka meninggal dengan cara sebaga berikut:

  1. Beramal dengan atas nama mereka
  2. Membangun badan amal dengan atas nama mereka, seperti Masjid, Pusat Kajian Islam, Perpustakaan Islam, Rumah Sakit Islam, Rumah Yatim Piatu, Panti Jompo, dll.
  3. Menjalankan haji dengan atas nama mereka, atau meminta orang lain yang mampu.
  4. Membaca Al-Qur’an untuk mereka
  5. Menyebarkan ajaran Islam

Marilah kita berdoa kepada Allah bahwa kita akan melakukan yang terbaik untuk kedua orangtua kita, untuk menghormati mereka, bersikap baik kepada mereka, membantu mereka dan menyenangkan mereka dalam cinta dan kasih sayang Allah.

“ Ya Allah! Terimalah doa kami dan jadikanlah kami sebagai hamba Mu yang patuh”

“Ya Allah! Bantulah kami agar kami dapat menjadi anak-anak yang selalu menghormati kedua orangtua kami. “

Amin.

http://rabithah.net

by: Dr. Ahmad H. Sakr