Bacaan Sesudah Sholat Lima Waktu

Posted: 6 Desember 2010 in Uncategorized

http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/bacaan-sesudah-sholat-lima-waktu.htm

Di antara manfaat sholat lima waktu setiap hari ialah dihapuskannya dosa-dosa oleh Allah ta’aala. Subhaanallah…! Bayangkan, setiap seorang muslim selesai mengerjakan sholat yang lima waktu berarti ia baru saja membersihkan dirinya dari tumpukan dosa yang sadar tidak sadar telah dikerjakannya antara sholat yang baru ia kerjakan dengan sholat terakhir yang ia ia kerjakan sebelumnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Sholat lima waktu dan (sholat) Jum’at ke (sholat) Jum’at serta dari Ramadhan ke Ramadhan semua itu menjadi penghabus (dosanya) antara keduanya selama ia tidak terlibat dosa besar.” (HR Muslim 2/23)

Bila seorang muslim memahami dan meyakini kebenaran hadits di atas, niscaya ia tidak akan membiarkan satu kalipun sholat lima waktunya terlewatkan. Bahkan dalam hadits yang lain dikatakan bahwa bila seorang muslim khusyu dalam sholatnya, maka ia akan diampuni segenap dosanya di masa lalu. Subhaanallah…!

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidak seorangpun yang bilamana tiba waktu sholat fardhu lalu ia membaguskan wudhunya, khusyu’nya, rukuknya, melainkan sholatnya menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lampau, selagi ia tidak mengerjakan dosa yang besar. Dan yang demikian itu berlaku untuk seterusnya.” (HR Muslim 2/13)

Setiap hari manusia senantiasa melakukan dosa, baik sengaja maupun tidak. Maka seorang mu’min yang sadar pasti akan menempuh segenap upaya yang bisa mendatangkan ampunan Allah ta’aala dan dapat menghapuskan kesalahan-kesalahannya. Sehingga Allah ta’aala menggambarkan ciri orang bertaqwa sebagai orang yang bersegera menggapai ampunan Allah ta’aala.

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

Seorang yang beriman dan bertaqwa sangat tamak akan ampunan Allah ta’aala sebab ia tahu benar bahwa jika ia wafat dalam keadaan telah diampuni segenap dosanya berarti ia akan mengalami ketenteraman dalam hidup di alam kubur dan di akhiratnya. Demikianlah Nabiyullah Ibrahim ’alihis-salaam tatkala bermunajat di hadapan Allah ta’aala:

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

”…dan (Dialah Tuhan) Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS Asy-Syuara ayat 8)

Maka untuk menyempurnakan datangnya ampunan Allah ta’aala dan dihapuskannya segenap kesalahan, seorang mu’min menutup sholat lima waktunya dengan membaca wirid yang diajarkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Suatu bentuk wirid yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam jamin akan menyebabkan semua kesalahan seseorang bakal dihapus Allah ta’aala walaupun sebanyak lautan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu ia berkata bahwa Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa bertasbih (membaca SubhanAllah) 33 kali sesudah setiap sholat lalu bertahmid (membaca Alhamdulillah) 33 kali lalu bertakbir 33 (membaca Allah Akbar) kali maka itulah sembilanpuluh sembilan. Lalu ia menyempurnakan menjadi seratus dengan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Tidak ada ilah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segenap kerajaan dan miliknya segenap puji-pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Berkuasa, maka dihapuskan segenap kesalahannya walaupun sebanyak lautan.” (HR Muslim 939)

Zuhudlah Terhadap Dunia

Senin, 12/07/2010 10:25 WIB |ERA MUSLIM

Zuhud adalah salah satu akhlak utama seorang muslim, terutama saat dihadapannya terbentang lebar kesempatan untuk meraih dunia dengan segala perbendaraannya, apakah itu kekuasaan, harta kedudukan, dan segala fasilitas lainnya.

Karena itu, zuhud adalah karakteristik dasar yang membedakan antara seorang mukmin sejati dengan seorang mukmin awam. Jika tidak memiliki keistimewaan dengan karakteristik ini, seorang mukmin tidak dapat dibedakan lagi dari manusia kebanyakan yang terkena fitnah dunia.

Apalagi seorang yang menyandang predikat (gelar) da’i. Jika orang banyak mengatakan dia ‘sama saja’, tentu nilai-nilai yang didakwahinya tidak akan membekas ke dalam hati orang-orang yang di dakwahinya. Dakwah layu sebelum berkembang. Karena itu, stiap mukmin , terutama para da’i, harus menjadikan zuhud sebagai perhiasan jati dirinya.

Para ulama memperjelas makna dan hakikat zuhud. Secara syar’i, zuhud bermakna adalah mengambil sesuatu yang halal hanya sebatas keperluan. Abu Idris al-Khaulani bekata, “Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan membuang semua harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah ketimbang apa yang ada di tangan kita. Ibnu Khafif berkata, “Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di akhirat nanti, sedangkan wara’ adalah meninggalkan sesuatu yang ditakuti bahayanya di akhirat nanti”.

Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Zuhudlah terhadap apa yang di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di sisi manusia, maka manusia pun akan mencintaimu. (HR.Ibnu Majah, Tabrani, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Dalam generasi salaf dan tabi’in ada mutiara-mutiara yang indah dan cemerlang, yang menghiasi peradaban Islam, bukan peradaban materialisme. Betapapun mereka orang-orang yang memiliki kesempatan mereguknya. Tetapi, tak juga melakukan untuk mereguk kenikmatan itu.

Seperti kisah, Muhammad bin Waasi’ Al-Azdi, yang mendapatkan julukan guru orang-orang zuhud di zamannya. Ia hidup dizamannya Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Saat itu di mana Yazid bin Muhallab bin Abi Sufrah, salah satu pedang Islam yang terhunus, dan menjadi wali di Khurasan ysnh kuat, bergerak dengan sangat bersama dengan pasukannya yang berjumlah seratus ribuorang, ditambah lagi dengan para sukarelawan dari mereka yang ingin mencaria syahadah dan mencari pahala.

Pusakan Islam yang dipimpin Yazid bin Muhallab ingin menaklukkan daerah Jurjan dan Thabaristan. Di barisan depan ada generasi tabi’in utama, bernama Muhammad bin Waasi’ dari Basrah yang dikenal dengan ‘Zainul Fuqaha’ (hiasan para ahli fikih), dan sering dipanggil Abid Basrah dan merupakan murid dari shahabat Anas bin Malik al-Anshari, pembantu Rasululah Shallahu Alaihi Wa Sallam.

Meski tubuhnya nampak kurus dan usianya yang sudah lanjut, Muhammad bin Waasi’, memegang posisi yang cukup penting dalam pasukan Islam. Pasukan Islam merasa terhibur dengan cahaya iman yang terpancar dari wajahnya yang cerah, dan makin bersemangat bila mendengar nasihat-nasihat yang keluar dari lidahnya yang lembut dan menjadi tenang karena do’anya yang mustajab bila mendapati kesulitan. Bila panglima perang menyeru, maka Muhammad Waasi’ menyeru, “Wahai pasukan Allah, menjulah!”, sebanyak tiga kali. Begitu mendengar suaranya, segenap prajurit pasukan Islam itu siap berperang menghadap musuh dengan penuh keberanian.

Ketika berlangsung peperangan yang amat dahsyat, terdapat seorang prajurit musuh, yang sangat tinggi dan kekar. Perang tanding satu lawan satu, antara pasukan Islam dengan pasukan musyrikin. Diantara pasukan musuh memiliki prajurit berbadan tinggi besar dan kekar, dan menantang Muhammad Waasi’ untuk berperang dengannya.

Keduanya berperang seperti seekor singa yang kalap. Yazid bin Muhallab, merasa sangat kagum melihat pertempuran yang dahsyat itu. Kilatan pedang dan senjata, yang bertubi-tubi. Muhallab bertanya, “Alangkah hebatnya. Siapakah dia?”. Orang-orang menjawabnya, “Dia adalah orang yang mendapat berkat doa dari Muhammad bin Waasi’”, ucap mereka.

Pertempuran yang sangat dahsyat itu disudahi dengan kemenangan pasukan Islam yang dipimpin oleh Yazid bin Muhallab. Kemudian, raja kaum musyrikin itu, menawarkan perdamaian kepada kaum muslmin, dan akan menyerahkan seluruh kekayaan negerinya asalkabn keluarga dan hartanya aman. Tawaran itu disetujui Yazid. Mereka harus membayar sebesar 700.000 dirham, menyerahkan 400 ekor unta bermuatan za’faran (kunyit), dan 400 orang yang setiap orangnya membawa satu gelak perak, memakai topi dari sutera dan beludru dan megnenakan mantel seperti yang dikenakan isteri-isteri prajurit mereka.

Perangpun usai, Yazid bin Muhallab berkata kepada bendaharanya, “Sisihkan sebagian ghanimah itu untuk kita. Berikan sebagai imbalan jasa kepada yang berhak”, tukasnya. Diantara ghanimah itu ditemukan pula oleh kaum muslimin sebuah mahkota terbuat dari emas murni bertatahkan intan permata beraneka warna dalam ukiran yang indah dipandang mata. Lalu, Yazid mengacungkan tinggi-tinggi, agar semua dapat melihat mahkota itu. Yazid berkata, Adakah kalian melihat orang yang tak menginginkan benda ini?, tanyanya. Mereka berkata, “Semoga Allah memperbagus keadaan Amir, siapa pula ylang akan menolak barang itu?”, tambahnya.

Yazid menukas, “Kalian akan melihat bahwa ada diantara umat Muhammad Shallahu Alaihi Wa Sallam, senantiasa tidak menginginkan harta ini ataupun yang semacam dengan ini yang ada diatas bumi”, cetusnya. Kemudian Yazid memanggilnya pembantunya, “Carilah Muhammad bin Waasi’”. Lelaki tua itu ditemukan oleh pembantunya Yazid, dan ia dalam keadaan sedang berzikir, beristighfar, bersyukur dan berdo’a. “Amir Yazid memanggil anda sekarang juga”, ujar utusan itu. Maka, beliau berdiri dan berjalan mengikuti utusan Yazid.

kemudian pemimpin pasukan Islam, Yazid bin Muhallab bertemu dengan Muhammad bin Waasi’ berkata, “Wahai Abu Abdillah, pasukan muslimin telah menemukan mahkota yang sangat berharga ini. Aku melihat andalah yang layak untuk menerimanya, sehingga kujadikan mahkota ini sebagai bagianmu, dan orang-orang telah setuju”. Muhammad, “Anda menjadikan ini sebagai bagianku wahai Amir?”, tanyanya. Yazid, “Benar. Ini bagianmu”, tambahnya. Muhammad, “Aku tidak memerlukannya. Semoga Allah membalas kebaikan anda dan mereka”, tegas Muhammad. Yazid, “Aku telah bersumpah bahwa engkaulah yang harus mengambil ini”.

Dengan terpaksa Muhammad bin Waasi’ menerimanya dikarenakan sumpah amirnya. Setelah itu Muhammad berpamitan kepada Yazid dan meninggalkannya. Orang-orang yang tak mengenalnya berkata sinis, “Nyatanya dia bawa juga harta itu”.
Sementara itu Yazid memerintahkan prajuritnya menguntit sheikh itu dengan diam-diam, apa yang hendak dilakukannya terhadap benda yang sangat berharga itu.

Muhammad bin Waasi’ berjalan dengan menentang harta berharga ditangannya. Di tengah jalan beliau berjumpa dengan orang asing, yang kusut masai dan pakaiannya compang-camping meminta-minta kalau-kalau ada bantuan dari harta Allah Rabbul Alamin. Sheikh itu segera menoleh ke kanan dan ke kiri dan ke belakang … dan setelah yakin tidak ada yang melihat, diberikannya mahkota itu kepada orang yang miskin itu. Orang miskin pergi dengan suka-cita, seakan beban yang dipikulnya telah diangkat dari punggungnya.

Tanpa disadari seorang prajurit memegang tangan orang miskin itu, dan mengajaknya menghadap amir untuk menceritakan kejadiannya. Mahkota itu diambil lagi oleh amir, dan diganti dengan harta sebanyak yang dimintanya. Yazid berkata pasukannya, “Bukankah telah aku katakan kepada kalian bahwa diantara umat Muhammad senantiasa ada orang-orang yang tidak membutuhkan mahkota ini atau yang semisalnya”, ujar Yazid.

Sebuah kazanah dalam sejarah Islam, yang sangat berharga bagi kehidupan kaum muslimin, dan sekaligus tadzkiroh yang tak akan habis-habis.


Ghibah/Menggunjing” ketegori Muslim. Dosa-Dosa Yang Dianggap Biasa

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid

Dalam banyak pertemuan di majlis, seringkali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing umat Islam. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hal tersebut, dan menyeru agar segenap hamba menjauhinya. Allah menggambarkan dan mengidentikkan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikkan. Allah berfirman :

“Artinya : Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan makna ghibah dalam sabdanya :

“Artinya : Tahukah kalian apakah ghibah itu ? “Mereka menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. “Beliau bersabda :”Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan : “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu terdapat pada saudaraku ? “Beliau menjawab : “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta atasnya”.

Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka . Baik dalam keadaan soal jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, ahlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya-pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-ngolok.

Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya , dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya”.

Wajib bagi orang yang hadir dalam majlis yang sedang menggunjing orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya.

“Artinya : Barangsiapa menolak kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya”.

Sumber Ghibah/Menggunjing : http://assunnah.or.id

JAMA ‘TAQDIM / JAMA’ TAKHIR

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada dua jenis jama’, yang pertama disebut jama’ taqdim dan yang kedua
disebut jama’ ta’khir. Jama’ taqdim adalah melakukan dua shalat pada
waktu shalat yang pertama. Jama’ taqdim ini hanya ada dua saja. yaitu
shalat Zhuhur dan shalat Ashar dilakukan pada waktu Zhuhur. Lalu shalat
Maghrib dan shalat Isya’ dilakukan pada waktu Maghrib. Di luar keduanya,
tidak ada jama’ lainnya.

A. Hal-hal yang Membolehkan Jama’

1. Dalam keadaan safar yang panjang sejauh orang berjalan kaki atau naik
kuda selama dua hari. Para ulama kemudian mengkonversikan jarak ini
menjadi 89 km atau tepatnya 88,704 km.
2. Hujan yang turun membolehkan dijama’nya Mahgrib dan Isya’ di waktu
Isya, namun tidak untuk jama’ antara Zhuhur dan Ashar. Dengan dalil: ??
?? ????? ??? ??? ??? ???? ?? ???? ??? ?????? ??????? – ???? ??????
Artinya: Sesungguhnya merupakan sunnah bila hari hujan untuk menjama’
antara shalat Maghrib dengan Isya’ (HR. Atsram)
3. Keadaan sakit menurut Imam Ahmad bisa membolehkan seseorang menjama’
shalat. Dalilnya adalah hadits nabawi: ??? ????? ? ??? ?? ??? ??? ???
??? Bahwa Rasulullah SAW menjama’ shalat bukan karena takut juga bukan
karena hujan.

B. Syarat Jama’ Taqdim

Untuk dibolehkan dan sah-nya jama’ taqdim, paling tidak harus dipenuhi 4
syarat. Bila salah satu syarat ini tidak terpenuhi, tidak sah bila
dilakukan jama’ taqdim.

1. Niat Sejak Shalat yang Pertama

Misalnya kita menjama’ shalat Zhuhur dengan shalat Ashjar di waktu
Zhuhur, maka sejak berniat shalat Zhuhur kita juga harus sudah berniat
untuk menjama’ dengan Ashar. Niat untuk menjama’ ini masih dibolehkan
selama shalat Zhuhur belum selesai. Jadi batas kebolehan berniatnya
hingga sebelum mengucapkan salam dari shalat Zhuhur. Bila selesai salam
kita baru berniat untuk menjama’, jama taqdim tidak boleh dilakukan.
Sehingga shalat Ashar hanya boleh dilakukan nanti bila waktu Ashar telah
tiba.

2. Tertib

Misalnya kita menjama’ shalat Maghrib dengan shalat Isya’ dengan taqdim,
yaitu di waktu Maghrib, maka keduanya harus dilakukan sesuai dengan
urutan waktunya. Harus shalat Maghrib dulu yang dikerjakan baru kemudian
shalat Isya’. Bila shalat Isya’ yang dikerjakan terlebih dahulu, maka
tidak sah hukumnya.

Namun bila bukan jama’ taqdim, dimungkinkan untuk melakukannnya dengan
terbalik, yaitu shalat Isya’ dulu baru shalat Maghirib. Meski pun tetap
lebih utama bila dilakukan dengan tertb urutan waktunya.

3. Al-Muwalat (Bersambung)

Maksudnya antara shalat yang awal dengan shalat kedua tidak boleh
terpaut waktu yang lama. Boleh diselingi sekadar lama waktu orang
melakukan shalat dua rakaat yang ringan. Juga boleh diselingi dengan
mengambil wudhu’. Tapi tidak boleh bila diselingi pekerjaan lain dalam
waktu yang terlalu lama.

Disunnahkan di antara jeda waktu itu untuk mengulangi azan dan iqamah,
tapi bukan shalat sunnah. Sebab pada hakikatnya kedua shalat ini
disatukan. Ketiga syarat ini berlaku mutlak untuk jama’ taqdim namun
untuk jama’ ta’khir bukan menjadi syarat, hanya menjadi sunnah saja.

4. Masih Berlangsungnya Safar Hingga Takbiratul Ihram Shalat yang Kedua

Misalnya kita menjama’ taqdim shalat Maghrib dengan Isya’ di waktu
Maghrib, maka pada saat Isya’ kita harus masih dalam keadaan safar atau
perjalanan. Paling tidak pada saat takbiratul ihram shalat Isya’.

Hal itu terbayang kalau kita melakukannya di kapal laut misalnya. Kapal
itu harus masih dalam pelayaran pada saat kita takbiratul ihram shalat
Isya. Tidak mengapa bila selama shalat Isya itu, kapal sudah merapat ke
pelabuhan negeri kita.

B. Syarat Jama’ Ta’khir

Sedangkan syarat dibolehkannya jama’ ta’khir hanya ada dua saja. Yaitu
adalah:

1. Berniat untuk Menjama’ Ta’khir Sebelum Habisnya Waktu Shalat yang
Pertama

Misalnya kita berniat untuk menjama’ shalat Maghrib dengan Isya di waktu
Isya’, maka sebelum habis waktu Maghrib, kita wajib untuk berniat untuk
menjama’ takhir shalat Maghrib di waktu Isya’. Niat itu harus dilakuakan
sebelum habisnya waktu shalat Maghrib.

2. Safar Harus Masih Berlangsung Hingga Selesainya Shalat yang Kedua.

Kita masih harus dalam perjalanan hingga selesai shalat Maghrib dan
Isya’. Tidak boleh jama’ ta’khir itu dilakukan di rumah setelah safar
sudah selesai. Sebab syarat menjama’ shalat adalah safar, maka bila
safar telah selesai, tidak boleh lagi melakukan jama’. Oleh karena itu,
bila kita mau menjama’ ta’khir, jangan lakukan di rumah, melainkan
sebelum sampai ke rumah atau selama masih dalam kondisi perjalanan.

Bolehkah Shalat Isya’ Dulu Baru Maghrib?

Bila jama’ taqdim, tidak boleh mendahulukan shalat Isya’, tapi boleh
bila jama’ ta’khir. Namun tetap lebih utama bila dilakukan sesuai urutan
shalatnya. Kecuali ada uzdur tertentu yang tidak memungkinkan
mendahulukan shalat Maghirb. Misalnya, di waktu Isya di suatu masjid di
mana orang-orang sedang shalat Isya’, tidak mungkin para musafir yang
singgah mengerjakan shalat Maghrib dengan berjamaah.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s